Pojoke Jogja

Pesona Jogja – jogjo opo-opo ono

endjang


Trans Jogja perlu dievaluasi 

Selasa, 24 November 2009 13:12:38

20091124131238_20091121132421_090709_Trans_Jogja_Turis_Asing_sur1.jpg

DANUREJAN: Bus Trans Jogja dinilai belum bisa mengurangi kemacetan di Jogja. Kondisi ini membuat sejumlah pihak meminta adanya evaluasi keberadaan alat transportasi publik tersebut. “Perlu ada sebuah pendataan, banyak atau tidak masyarakat khususnya pengguna kendaraan bermotor yang beralih menggunakan Trans Jogja,” ungkap anggota Dewan DIY, Agus Sumartono, kepada Harian Jogja, Senin (23/11).

Pendataan yang dilakukan itu menurutnya adalah harus data terbaru, bukan pada awal- awal penyelenggaraan bus Trans Jogja. Sebab, jika sudah ada data, namun data tersebut adalah data lama dinilai belum mampu memperlihatkan pemakai tetap bus Trans Jogja. “Awalnya kan masyarakat memang banyak yang menggunakan Trans Jogja.

Namun, tak dapat dipungkiri pada permulaannya masyarakat hanya coba-coba saja,” jelasnya. Menurutnya, fungsi bus Trans Jogja tersebut harus disesuaikan dengan memindahkan  pengendara pribadi untuk menggunakan Trans Jogja tersebut. “Bila tidak tentu harus ada solusi lain, jangan dipaksakan,” kata dia.

Pendapatnya ini mendapatkan dukungan dari anggota Dewan lainnya. Sukamta menambahkan, bus Trans Jogja saat ini belum mampu memindahkan kemacetan di Kota Jogja. Dia justru menawarkan solusi lain. Solusi itu adalah perlu ada sebuah publik transport seperti mini bus, namun dengan catatan, mini bus tersebut juga harus memiliki ketepatan waktu.

“Ke depannya perlu sebuah publik transport seperti minibus yang lebih mampu menjangkau seluruh daerah,” kata dia. Sukamta mengatakan evaluasitersebut tidak hanya sebatas pada kemampuan Trans Jogja memindahkan pengguna kendaraan bermotor, namun dari sisi anggaran. “Apakah dana yang sudah dikeluarkan dari APBD itu sudah efektif,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika DIY, Sigit menyatakan pihaknya pernah melakukan pendataan, namun pendataan itu dilakukan pada Februari 2008, saat bus Trans Jogja baru beroperasi. Sebagian besar responden menyatakan ukuran dan jumlah halte masih sangat kurang. Karena data itu terbilang sudah uzur, pihaknya mengaku akan melakukan pendataan ulang. “Dalam waktu dekat ini kita akan melakukan pendataan ulang untuk mengukur perpindahan kemacetan itu,” pungkas dia.

Oleh Andreas Tri Pamungkas; harian jogja

Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe (Sego Segawe)

Program Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe (Sego Segawe) yang diluncurkan Pemerintah Kota Yogyakarta beberapa waktu yg lalu, hendaknya ditindaklanjuti dengan rencana aksi yang jelas. Jangan sampai kemudian program tersebut tidak mendapat respons dari masyarakat karena kurang atau tidak adanya program yang berkelanjutan. Misalnya tidak adanya sarana tempat parkir di kawasan publik maupun di instansi negeri maupun swasta. Beberapa tahun lalu di Yogyakarta sebenarnya sudah dideklarasikan program ‘Jogja untuk Sepeda’ oleh Sultan HB X. Juga ada program ‘Jogja Kembali Bersepeda’. Sayangya program tersebut belum bisa berjalan maksimal karena tidak adanya rencana aksi berikutnya. Dukungan ketersediaan prasarana dan sarana juga sangat diperlukan.
Dukungan tersebut masih minim, misalnya saja masih sangat sedikit tempat parkir khusus sepeda. Kalau menginginkan sepeda menjadi alat transportasi yang sejajar dengan alat transportasi lain, maka ketersediaan tempat parkir selain jalur sepeda merupakan keharusan. Sebenarnya langkah Pemkot lewat program ‘Sego Segawe’ sudah sangat bagus, apalagi dengan presure atau ‘tekanan’ kepada pegawai di lingkungan Pemkot Yogyakarta. Masing-masing Dinas terkait di Pemkot Yogyakarta hendaknya membuat rencana aksi seperti Dinas Perhubungan, Lingkungan Hidup atau Dinas Pendidikan. Tujuannya agar program ‘Sego Segawe’ tidak hanya gebyar pada awalnya saja. Dikonfirmasi, Walikota Yogya Herry Zudianto mengatakan Pemkot saat ini sedang mempelajari secara teknis termasuk peta jalur sepeda yang dibuat B2W Chapter Yogyakarta, konsep-konsep pendukung sarana prasarana khususnya jalur sepeda untuk gerakan Sego Segawe. Mulai dari perencanaan di atas kertas menjadi detail implementasi teknis di lapangan. “Tentunya mungkin kita mulai di ruas-ruas jalan tertentu, pada jam-jam tertentu (misal jam masuk dan pulang sekolah) serta hari-hari tertentu terus kita lihat optimalisasinya,” ujar Walikota, Selasa (14/10). Namun, ujar Herry, apresiasi masyarakat luas terhadap pengendara sepeda sangat penting. Sebab kalau tidak, akan percuma jika jalur sepeda akhirnya tidak dihargai oleh jenis pengendara yang lain. Hal tersebut segera dilakukan Pemkot menjawab besarnya responsivitas masyarakat atas gerakan ‘Sego Segawe’. Bahkan untuk mendorong peningkatan apresiasi masyarakat luas untuk menghormati pengendara sepeda, Walikota menghimbau dan mendukung sekiranya dimungkinkan dari proses hukumnya, polisi, hakim dapat mengenakan hukuman dan atau denda tambahan khusus bagi pengendara moda transportasi non sepeda yang bertabrakan dengan pengendara sepeda atau pejalan kaki, di mana pengendara moda transportasi non sepeda tersebut dinyatakan bersalah. (disadur dari beberapa sumber)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: